OSTEOPOROSIS
DEFINISI
Osteoporosis dicirikan oleh rendahnya
massa tulang dan rendahnya kualitas jaringan tulang sehingga
menyebabkan fragilitas tulang dan peningkatan resiko patah tulang. WHO
mengklasifikasikan massa tulang berdasarkan skor T. Skor T
adalah jumlah standar deviasi dari rerata kerapatan massa tulang (bone
mass density, BMD) untuk populasi normal muda. Massa tulang normal
adalah mereka dengan skor T lebih besar dari –1, osteopenia –1
sampai –2,5 dan osteoporosis kurang dari –2,5.
Tiga kategori osteoporosis telah dijelaskan:
(1) postmenopausal osteoporosis terutama mempengaruhi tulang trabekular setalah menopause
(2) osteoporosis terkait-usia
sebagai akibat dari kehilangan tulang yang mulai terjadi sesaat
setelah puncak massa tulang tercapai
(3) osteoporosis sekunder karena pengobatan dan penyakit tertentu yang mempengaruhi kedua tipe tulang.
PATOFISIOLOGI
Defisiensi estrogen meningkatkan
resorpsi tulang di atas pembentukan. Faktor tumor nekrosis dan
cytokines lain merangsang aktivitas osteoclastic. Pengurangan
faktor pertumbuhan β terkait kehilangan estrogen juga merangsang
aksi osteoklas.
Kehilangan tulang terkait-usia sebagai
hasil dari peningkatan resorpsi tulang. Peningkatan apoptosis dari
osteosit bisa menurunkan respon terhadap tekanan mekanis dan
memperlambat perbaikan tulang. Penuaan juga meningkatkan resiko
fraktur karena kondisi kesehatan, kelainan kognitif, pengobatan,
kekurangan asupan kalsium, dan kekurangan asupan dan absorpsi
vitamin D.
Osteoporosis karena obat bisa muncul
dari glukortikoid sistemik (prednisone >7,5 mg/hari),
penggantian (replacement) tiroid yang berlebihan, beberapa obat
anti epilepsi, dan penggunaan heparin jangka panjang (>15.000
sampai 30.000 unit tiap hari untuk lebih dari 3-6 bulan).
CIRI KLINIK
Ciri umum adalah bertambah pendek,
kifosis, lordosis, rasa sakit pada tulang, atau patah, terutama pada
tulang belakang, pinggul, atau lengan bawah. Fraktur bisa terjadi
setelah menekuk, mengangkat, atau jatuh. Patah tulang belakang yang
paling sering, dan patah di banyak tempat bisa mengarah ke kifosis
dorsal dan memperparah lordosis. Lepasnya tulang belakang jarang
mengakibatkan kompresi spinal cord. Perubahan dinding dada bisa
mengakibatkan komplikasi kardiovaskular dan paru.
Rasa sakit akut akibat patah biasanya selama 2-3 bulan. Rasa sakit bisa berupa rasa sakit yang dalam dekat tempat patah.
DIAGNOSA
Riwayat pasien harus didapatkan untuk
mencari riwayat patah tulang sewaktu dewasa, kondisi medis,
operasi, dan kehadiran faktor resiko untuk osteoporosis.
- Faktor resiko genetik termasuk etnis
Asia atau Kaukasia, riwayat keluarga untuk osteoporosis atau patah
tulang, dan kerangka tubuh yang kecil (tinggi, kurus, indeks
massa tubuh kecil).
- Gaya hidup dan faktor diet
termasuk gaya hidup sedentary (banyak duduk) dengan latihan
minimal, merokok, penggunaan alkohol berlebih, jarang terkena
matahari, asupan kalsium rendah sepanjang hidupnya, intolerasnsi
laktosa, asupan kafeine tinggi, asupan protein hewani tinggi,
turunnya berat >10% setelah usia 50 tahun, dan anorexia
nervosa.
- Faktor ginekologi termasuk menarche
(dimulainya menstruasi) yang terlambat, operasi atau menopause
yang lebih cepat, oophorecthomy (pengangkatan ovarium) tanpa
terapi penggantian estrogen (estrogen replacement theraphy, ERT),
nulliparity, dan amenorrhea.
- Penyakit kronik yang bisa meningkatkan
resiko termasuk hipertiroidisme, sindroma Cushing, kanker tulang
dan diabetes melitus.
- Pengobatan yang meningkatkan resiko
termasuk glukokortikoid, penggantian tiroid yang berlebihan,
penggunaan heparin dosis tinggi dalam waktu yang lama, dan anti
convulsan.
- Pemeriksaan fisik menyeluruh dan
analisis laboratorium diperlukan untuk mengetahui penyebab sekunder dan
untuk menaksir kifosis dan sakit punggung. Evaluasi biokimia harus
memasukkan complete blood count, panel kimia (termasuk koreksi kalsium
untuk tingkat serum albumin, fosfor, dan alkaline fosfatase), dan
konsentrasi 25-hydroxyvitamin D.
- Radiograf sumsum lateral bisa dilakukan pada sakit punggung yang baru atau yang parah untuk mendeteksi patah tulang belakang.
- Pengukuran BMD pusat (pinggul dan
sumsum) dengan dual-energy x-ray absorptiometry (DXA) adalah standar
tertinggi untuk diagnosa osteoporosis. Untuk setiap 1 SD dibawah rerata
BMD dewasa muda, resiko patah meningkat dua kali. Pengukuran pada bagian
tepi (lengan bawah, tumit, dan phalanges) dengan single-energy x-ray
absorptiometry (SXA), ultrasonic, atau DSA hanya digunakan untuk
skrining.; prediksi akurat untuk fraktur sudah disediakan oleh BMD
pinggul.
- Biopsi tulang jarang berguna untuk osteoporosis tapi bisa digunakan untuk mencari sebab sekunder, seperti osteomalacia.
- Penanda biokimia untuk turnover
tulang digunakan pada uji klinik. Penanda untuk resorpsi tulang
termasuk C-terminal atau N-terminal telopeptide dan deoxypyridinolline.
Penanda pembentukan tulang termasuk alkaline fosfat spesifik tulang,
osteocalcin, dan C-terminal dan N-terminal peptide dengan procolagen.
HASIL YANG DIINGINKAN
Pada pasien dengan resiko osteoporosis,
tujuan pencegahan adalah mendapatkan massa tulang optimal dan mengurangi
kehilangan massa tulang. Pencegahan idealnya dimulai dengan
meningkatkan massa puncak tulang pada anak, remaja, dan dewasa muda.
Tujuan perawatan untuk mengurangi hilangnya massa tulang dan mengurangi
fraktur. Kontrol rasa sakit bisa dibutuhkan terutama setelah fraktur dan
untuk osteoporosis parah.
PENCEGAHAN DAN PERAWATAN
Panduan termasuk pendekatan farmakologi dan non farmakologi (dapat dilihat di ebook nya :) ).
Pencegahan dan Perawatan non Farmakologi
- Semua individu dietnya harus seimbang dengan asupan kalsium dan
vitamin D yang cukup (Tabel 3-1). Tabel 3-2 mencantumkan makanan
dengan konsentrasi kalsium tinggi. Jika asupan diet yang cukup
tidak bisa dicapai, suplemen kalsium bisa diberikan.
- Latihan beban bisa mencegah hilangnya massa tulang dan menurunkan resik fraktur.
Pencegahan dan Perawatan Farmakologis
Pengobatan Antiresoptif
Kalsium
Kalsium harus diberikan dalam
jumlah yang cukup untuk mencegah hipertiroidisme sekunder dan
perusakan tulang. Asupan kalsium lebih tinggi telah menunjukkan
mencegah atau mengurangi hilangnya massa tulang pada dewasa.
Efeknya diperkuat ketika dikombinasikan dengan terapi antiresoptif lain
atau latihan fisik. Kombinasi kalsium dan vitamin D menurunkan
fraktur vertebral, non-vertebral dan pinggul.
Kalsium karbonat adalah garam
pilihan karena mengandung konsentrasi tertinggi kalsium (40%) dan
paling murah (Tabel 3-3). Kalsium karbonat sebaiknya diberikan
dengan makanan untuk meningkatkan absorpsi dengan peningkatan
sekresi asam. Absorpsi kalsium sitrat tergantung asam dan tidak
diberikan bersama makanan. Karena fraksi kalsium terabsorbsi
menurun dengan peningkatan dosis, dosis terbagi (500-600 mg atau
kurang) disarankan.
Efek samping paling umum adalah konstipasi dan flatulen; batu ginjal jarang terjadi.
Diuretik
Thiazide meningkatkan reabsorpsi kalsium urin, tapi meresepkannya tunggal hanya untuk osteoporosis tidak dianjurkan.
Vitamin D dan Metabolit
Defisiensi vitamin D muncul karena
asupan yang kurang, kurang terkena sinar matahari, atau penurunan
produksi di kulit. Lebih jarang, penurunan sintesis calcitriol di
ginjal terjadi karena usia atau disfunsi liver atau ginjal.
Suplemen vitamin D telah menunjukkan meningkatkan BMD, dan bisa mengurangi fraktur.
Kebanyakan tablet multivitamin
mengandung 400 IU vitamin D, dan produk kombinasi kalsium-vitamin D
mengandung 100-200 IU per dosis. Untuk manula, satu tablet
multivitamin sehari (dua tablet sehari untuk yang berusia di atas
70 tahun) cukup untuk asupan vitamin D harian.
Vitamin D dosis tinggi bisa menyebabkan hiperkalsimea dan hiperkalsiuria.
Bifosfanat
Bifosfanat terserap ke apatite (grup
kalsium fosfat pada tulang) tulang dan menyatu permanen dengan
tulang. Osteoklas tidak mampu menempel pada permukaan tulang yang
mengandung bifosfanat. Perkiraan waktu paruh terminal bifosfanat
serupa dengan turnover tulang (1-10 tahun).
Alendronate (Fosamax) diindikasikan
untuk pencegahan (5 mg/hari) dan perawatan (10 mg.hari)
osteoporosis pada wanita postmenopausal. Pemberian sekali seminggu
(70 mg) memberikan hasil BMD yang serupa, juga mengurangi paparan
obat kepada pasien.
Risedronate (Actonel: 5 mg/hari)
diindikasikan untuk perawatan dan pencegahan osteoporosis pada
wanita postmenopausal serta pria dan wanita yang menerima
glukokortikoid sistemik (prednisone setara 7,5 mg/hari atau lebih
besar) untuk penyakit kronik. Pemberian risedronate sekali seminggu
(30-35 mg) masih dalam penyelidikan.
Bifosfonat memberikan peningkatan BMD
tertinggi untuk agen antiresorptif. Alendronate, 10 mg.hari,
meningkatkan BMD sumsum lumbar 5,4-6%, tulang femoral leher 2,9%
dan trochanter (bagian atas tulang femur) 4,4-4,9%. Risedronate, 5
mg/hari, memberikan hasil yang serupa. Peningkatan BMD paling
tinggi pada tahun pertama perawatan dan berlanjut selama 7 tahun.
Setelah dihentikan, BMD dipertahankan atau menurun perlahan tapi
tetap lebih tinggi dari bukan pengguna. Terapi kombinasi dengan
estrogen atau terapi penggantian hormon (hormon/estrogen
replacement theraphy HRT/ERT) menghasilkan peningkatan BMD yang lebih
tinggi daripada pengobatan tunggal. Pengurangan fraktur pada
vertebral, non-vertebral dan pinggul telah dibuktikan.
Bifosfonat harus diberikan dengan
hati-hati untuk menghindari efek samping saluran cerna yang
serius. Semua bifosfonat sulit diabsorbsi (1-5%), dan makanan,
minuman, dan kalsium menurunkan absorbsi signifikan. Bifosfonat
sebaiknya diberikan pada pagi hari 30-120 menit sebelum pemberian
makanan, minuman atau obat pertama dengan segelas penuh air (bukan
kopi, jus, air mineral, atau susu). Pasien harus tetap dalam posisi
tegak selama 30 menit untuk mencegah iritasi esophageal dan
ulserasi. Kalsium dan, jika dibutuhkan, vitamin D sebaiknya juga
diberikan tapi pada waktu yang berbeda.
Efek samping paling umum untuk
bifosfonat adalah nausea; rasa sakit pada abdominal; dispepsia;
diare; dan iritasi, perforasi, ulserasi atau perdarahan esophageal,
lambung atau duodenal
Estrogen dan Terapi Hormon
Estrogen menurunkan aktivitas dan recruitment osteoklas,
menginhibit parathyroid hormone (PTH), meningkatkan konsentrasi
calcitriol dan absorbsi kalsium intestinal, dan menurunkan ekskresi
kalsium ginjal.
ERT dan kombinasi terapi penggantian
estrogen-progestin meningkatkan BMD, tapi datanya kurang untuk
pencegahan fraktur. Peningkatan BMD kebanyakan terlihat pada tahun
pertama perawatan, dengan sedikit peningkatan atau plato
setelahnya. Progestin yang ditambahkan ke ERT tidak memberikan
perubahan atau sedikit meningkatkan BMD. Estrogen oral dan
transdermal pada dosis yang sama dan berlanjut atau siklus ERT/HRT
mempunyai efek BMD yang serupa. Efek pada BMD adalah meningkat
ketika ERT/HRT dikombinasikan dengan alendronate. Percepatan
hilangnya massa tulang terjadi dengan penghentian ERT/HRT. Agen ini
telah disetujui oleh FDA untuk pencegahan osteoporosis tapi bukan
untuk perawatan.
Karena bukti yang bertentangan mengenai
penggunaan ERT/HRT untuk pencegahan penyakit kardiovaskular dan
potensi terjadinya kaker payudara tergantung-estrogen, penggunaan
ERT/HRT untuk pencegahan dan perawatan osteoporosis berlanjut dalam
kontroversi.
ERT/HRT menurunkan fraktur vertebral dan
non-vertebral secara signifikan pada beberapa ujicoba pada tidak
di ujicoba lain. Efek bervariasi oleh tipe tulang, usia pasien,
onset terapi, dan durasi ERT. Proteksi dikurangi setelah HRT telah
dihentikan selama paling tidak 5 tahun.
Dosis harian ERT yang disarankan untuk
pencegahan osteoporosis adalah conjugated equine estrogen 0,625 mg,
ethinyl estradiol 0,02 mg, estropipate 0,625 mg, esterified
estrogen 0,625 mg, micronized estradiol 1 mg, 17-β-estradiol 2 mg,
estrone sulfat 1,5 mg, dan estradiol transdermal 0,05 mg/hari.
ERT biasanya diberikan
berkelanjutan dengan pemberian berkelanjutan atau siklus progestin.
HRT berkelanjutan paling umum digunakan karena 60-80% wanita akan
mengalami amenorrheic dalam 6-12 bulan setelah memulai terapi dan
lebih sedikit wanita yang mengalami endometrial hyperplasia. Sampai
waktu itu, perdarahan bisa terjadi tanpa terdeteksi. Jika amenorrhea
tidak terjadi setelah 10-12 bulan, pola perdarahan yang bisa
diprediksi dengan terapi siklus lebih disukai.
Pemberian ERT tunggal berkelanjutan
untuk wanita yang sudah mendapat hysterectomy (pengangkatan
uterus).ERT meningkatkan resiko endometrial carcinoma pada wanita
dengan uterus yang intact (belum rusak). Terapi progestin untuk
palin tidak 12-14 hari sebulan biasanya menghilangkan resiko ini dan
bahkan bisa protektif. Conterone medroxyprogesterone acetate 2,5-5
mg, micronized progesterone 100 mg per hari, norethindrone acetate
5-10 mg selama 12-14 hari setiap bulan bisa digunakan. Pemberian
harian meningkatkan adherence dan merangsang amenorrhea.
Nilai resiko relatif untuk kanker
payudara pada wanita yang menjalani ERT/HRT antara 1,1-1,5, dengan
resiko sedikit meningkat dengan terapi lebih lama ( paling tidak
5-20 tahun) dan penambahan progestin.
Efek samping dari HRT termasuk
perdarahan vagina, melunaknya payudara, migrain, perubahan mood,
cholelithiasis (membentuk batu kandung empedu), dan tromboemboli
vena.
Kontraindikasi untuk ERT/HRT termasuk
kanker aktif atau dicurigai tergantung estrogen, perdarahan vagina
abnrmal, penyakit liver yang parah, dan trombosis vaskular aktif.
Kontraindikasi relatif termasuk migrain, riwayat pemyakit
tromboemboli (terutama dengan kehamilan atau setelah penggunaan
kontrasepsi oral), hipergliceridemia, fibroid uterine,
endometriosis, penyait kandung empedu, riwayat keluarga untuk
kanker payudara, dan disfungsi hepatik kronik.
Selective Estrogen Modulator (SERM)
Ralofexine (Evista) 60 mg sehari
diterima untuk pencegahan dan perawatan osteoporosis
postmenopausal. BMD pinggul dan spinal meningkat dari 2-3 % dan
menurunkan fraktur vertevral tapi belum dibuktikan menurunkan
fraktur pinggul. Ini pilihan yang baik untuk wanita yang tidak bisa
atau tidak boleh menerima estrogen. Bifosfonat mungkin merupakan
pilihan yang lebih baik pada osteoprosis parah ketika reduksi
resiko fraktur diinginkan.
Ralofexine merupakan antagonis estrogen
di jaringan uterine dan payudara sehingga tidak meningkatkan resiko
endometrial carcinoma, seperti pada estrogen dan tamoxifen.
Ralofexine dihubungkan dengan
peningkatan resiko tiga kali lipat trombemboli vena, serupa dengan
resiko pada estrogen. Ralofexine dikontraindikasikan pada wanita
dengan penyakit tromboemboli aktif. Efek samping lain termasuk kaki
kaku.
Testosterone dan Anabolic Steroid
Metil testosterone (1,25 atau 2,5 mg)
dan testosterone yang ditanam (50 mg tiap 3 bulan) dan patch
transdermal terkadang diberikan bersama dengan ERT/HRT pada wanita
dengan depresi atau libido yang menurun, fungsi seksual, atau
tingkat energi setelah oophorectomy (pengangkatan ovarium). Terapi
bersama umumnya memberikan efek BMD yang lebih bak daripada ERT
tunggal/
Meski anabolik steroid merangsang
aktivitas osteoblas, efek predominannya adalah mengurangi resorpsi
tulang, yang mungkin sekunder setelah peningkatan massa otot
dan kekuatan. Perubahan BMD relatif kecil, dan kebanyakan wanita
mendapat efek samping (efek virilizing seperti hirsutisme, jerawat, dan suara yang berat).
Calcitonin
Semprotan nasal Calcitonin (Mialcacin)
diindikasikan untuk perawatan osteoporosis untuk wanta paling tidak 5
tahun setelah menopause. Karena kurang efektif jika dibandingkan
dengan pengobatan osteporosis lainnya, calcitonin lebih sering
digunakan untuk pasien dengan rasa sakit akibat fraktur atau untuk
mereka yang tidak sesuai dengan terapi lainnya.
Regimen 200 IU calcitonin nasal
meningkatkan BMD spinal dan mengurangi fraktur vertebral baru
sebesar 36%. BMD pinggul tidak selalu dipengaruhi dan tidak
menurunkan fraktur pinggul.
Calcitonin salmon digunakan secara
klinik karena lebih poten dan efeknya lebih lama daripada
calcitonin mamalia. Dosis intranasalnya 200 IU sehari, bergantian
di tiap nares (lubang hidung). Pemberian subkutan (injeksi
Miacalcin) 100 IU/hari tersedia tapi jarang digunakan.
Calcitonin nasal bisa menyebabkan
rhinitis, epistaxis, dan iritasi nasal. Pemberian subkutan bisa
menyebabkan simtom saluran cerna, rasa sakit di tempat injeksi, dan
wajah memerah.
Terapi Pembentukan Tulang Investagisional
Hormon paratiroid
Meski PTH bisa meningkatkan resportion
tulang, PTH (1-84) dan fragmen N-terminalnya (1-34) (teriparatide,
masih dalam penyelidikan ketika tulisan ini dibuat) adalah anabolik
jika digunakan sekali sehari. Aktivitas anabolik bisa timbul dari
menurunnya apoptosis osteoblas dan peningkatan pembentukan tulang
dari osteoblas yang hidup lebih lama.
Pada uji klinik fase III kontrol-plasebo
pada 1637 wanita postmenopausal yang sudah mengalami fraktur
vertebral, 14% yang menerima plasebo mendapatkan fraktur vertebral
baru jika dibandingkan 5% dan 4% yang menerima teriparatide
subkutan 20 dan 40 μg sehari. BMD juga naik pada spinal lumbar dan
femur lebih tinggi pada pasien yang menerima dua dosis
teriparatide. Efek samping minor (nausea dan sakit kepala) tapi
terjadi lebh sering dengan naiknya dosis
Fluorida
Fluorida meningkatkan aktivitas
osteblas dan pembentukan tulang. Tetapi, meski dengan studi
bertahun-tahun, efek anti fraktur dari fluoridse masih diragukan,
dan fluoride bisa meningkatkan kerapuhan tulang.
Pada satu studi, pria dan wanita
yang diberikan fluoride monofosfat dan wanita yang menerima dosis
kecil lepas lambat natrium fluoride mengalami fraktur vertebral
yang lebih sedikit. Tetapi, hasil ini belum divalidasi pada studi
lain. Fluoride saat ini tidak direkomendasikan untuk terapi, tapi
produk lepas lambat sedang diuji oleh FDA.
OSTEOPOROSIS YANG DIRANGSANG OLEH GLUKOKORTIKOID
- Meski kehilangan massa tulang terus berlanjut dengan terapi
steroid, kehilangan terbesar terjadi pada 6-12 bulan pertama.
Tulang trabekular (rusuk, vertebrae, dan pelvis) lebih terpengaruh
daripada tulang kortikal. Dosis oral prednisne >7,5 mg atau yang
setara dan dosis yang dihirup lebih besar dari 800-1200 μg
beclomethasone, 800-1000 μg budesonide, 750 μg fluticasone, dan
1000 μg flunisolide umumnya dibutuhkan untuk kehilangan massa
tulang yang signifikan, tapi hilangnya massa dan fraktur bisa
terjadi dengan dosis lebih rendah. Pria, wanita dan anak-anak semua
rentan.
- Glukkortikoid menurunkan kekuatan otot dan pembentukan tulang
dan peningkatan resorpsi tulang. Penurunan absorpsi kalsium saluran
cerna dan peningkatan ekskresi ginjal mengakibatkan
hiperparatiroidisme sekunder.
- Pengukuran ekskresi kaslium urin 24 jam bisa membantu pada
penaksiran keseimbangan kalsium dan kebutuhan akan suplementasi
kalsium, terapi diuretik, dan perubahan pengobatan. Pemeriksaan
sinar x bisa mengindikasikan osteoporosis yang dirangsang steroid.
- Jika penghentian obat tidak dimungkinkan, glukokortikoid
sebaiknya digunakan sesdikit mungkin dan untuk durasi yang singkat.
Terapi pada hari bergantian tidak mengeliminasi hilangnya massa tulang.
Steroid yang dihirup mempunyai efek lebh kecil pada tulang
daripada terapi oral.
- Semua pasien merubah gaya hidupnya dan mengkonsumsi kalsium dan
vitamin D yang cukup. HRT sebaiknya ditawarkan kepada semua wanita
yang menggunakan steroid. Testosterone bisa dpertimbangkan untuk pria
dengan konsentrasi testosterone rendah. Jika terapi berlanjut lebih
dari 3 bulan, terapi antiresorptif bisa diberikan. Bifosfonat bisa
menghasilkan peningkatan densitas tulang yang lebih besar daripada
calcitonin, fluoride dan vitamin D.
- Semua pasien harus melakukan pengukuran BMD dalam 1 tahun dan
lalu tiap 2 tahun. Jika kehilangan massa tulang lebih besar dari 2-3%
per tahun, pengobatan tambahan diperlukan. Terapi dilanjutkan
sampai 3 tahun setelah penghentian steroid pada pasien dengan massa
tulang yang rendah.
EVALUASI HASIL TERAPI
Pasien yang menerima pencegahan atau
perawatan dengan ERT/HRT, bifosfonat, atau calcitonin harus
diperiksa paling tidak tiap tahun. Untuk wanita dengan ERT/HRT, ini
termasuk pemeriksaan payudara dan pelvik tahunan, mammografi, dan
pap smear. Perdarahan berlebih harus dievaluasi dengan biopsi
endometrial, transvaginal ultrasonografi, atau dilatasi dan kuret
jika dibutuhkan.
Kepatuhan dan toleransi atas pengobatan harus diperiksa tiap kunjungan.
Pengukuran BMD disarankan tiap 2-3
tahun jika baseline untuk skor T kurang dari –1,5. Untuk program
pencegahan, BMD harus diukur tiap tahun selama 3 tahun. Jika
stabil, pengukuran bisa dilanjutkan tiap 2 tahun; jika tidak tetap
dilakukan tiap tahun sampai stabil.
Peran penanda biokimia pada remodelling tulang untuk monitoring rutin pasien dan evaluasi pengobatan masih diselidiki.
0 comments:
Post a Comment